Pada Selasa sore, 24 Februari 2026, suasana religius menyelimuti Masjid Ar Rahmah di Dusun Gendong. Ratusan jamaah dari berbagai kalangan memadati area masjid untuk mengikuti rangkaian acara sholawat dan pengajian yang berlangsung dengan khidmat dan penuh kekhusyukan.
Kegiatan diawali dengan *pra sholawat*, di mana grup hadrah melantunkan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Jamaah turut bershalawat bersama, menciptakan suasana hangat dan penuh cinta kepada Rasulullah.
Memasuki sesi *pembukaan*, pembawa acara menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan serta ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi. Harapannya, kegiatan ini menjadi sarana memperkuat iman dan mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Acara dilanjutkan dengan *tahlil* dan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Bacaan kalimat tauhid menggema di dalam masjid, dipanjatkan untuk kaum muslimin dan muslimat yang telah mendahului.
Dalam *sambutan takmir*, oleh ustadz Rohmad Zubair mengajak jamaah untuk menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan akhlak generasi muda dan sebagai sarana mempererat ukhuwah islamiyah dengan di wadahi oleh seluruh banom NU desa Watugaluh.
Kepedulian sosial mewarnai kegiatan melalui *santunan anak yatim oleh UPZISNU* (Unit Pengumpul Zakat, Infak, dan Sedekah NU). Bantuan diserahkan secara simbolis kepada anak-anak yatim yang hadir. Momen tersebut berlangsung haru dan penuh rasa syukur.
Suasana semakin khidmat saat memasuki *mahalul qiyam*, seluruh jamaah berdiri melantunkan sholawat bersama sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW.
Puncak acara diisi oleh Agus Maimun Dhuha dalam penyampaian *mauidhoh hasanah*. Dalam ceramahnya, beliau mengutip penjelasan kitab Daqoiqul Akhbar (دقائق الأخبار) tentang hakikat kehidupan dan kematian. Ia mengingatkan firman Allah SWT bahwa setiap yang hidup pasti akan merasakan mati, sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur’an.
Beliau menggambarkan detik-detik sakaratul maut, ketika seseorang mengalami naza’, lisannya kelu karena dikunci malaikat. Allah SWT memerintahkan empat malaikat datang secara bergantian. Malaikat pertama memberi salam dan berkata bahwa ia diutus untuk mengurus makan, dan hari itu orang tersebut tidak dapat makan sedikit pun. Malaikat kedua menyampaikan bahwa ia tidak dapat minum seteguk air. Malaikat ketiga mengatakan bahwa detik itu ia tidak lagi dapat bernapas. Malaikat keempat menyampaikan bahwa waktunya di dunia telah habis.
Setelah itu datang Malaikat Maut, yaitu Izrail, didampingi malaikat rahmat di sebelah kanan dan malaikat azab di sebelah kiri. Malaikat rahmat membawa kafan dari surga, sedangkan malaikat azab membawa kafan dari neraka.
Apabila orang tersebut baik amal dan akhlaknya, malaikat berkata dengan lembut, “Wahai orang yang baik, kini saatnya kembali kepada Allah SWT mencari ridha-Nya.” Ruhnya keluar bagaikan air yang mengalir dari timba, lalu didampingi malaikat rahmat dengan kain kafan dari surga dan diantarkan hingga ke langit ketujuh.
Sebaliknya, jika semasa hidupnya buruk perilakunya, malaikat berkata, “Wahai orang yang buruk sifatnya, kini saatnya engkau menemui Allah dan meminta perlindungan-Nya.” Ruhnya keluar dengan susah payah bagaikan tertusuk-tusuk, lalu diterima malaikat azab yang membawa kafan dari neraka. Ruh tersebut dibawa naik, namun telah ditolak sejak langit pertama.
Di akhir tausiyahnya, Agus Maimun Dhuha mengajak jamaah untuk memperbanyak amal saleh, menjaga lisan, serta mempersiapkan bekal sebelum datangnya kematian yang pasti menghampiri setiap insan.
Acara ditutup dengan doa bersama, memohon agar seluruh jamaah diberikan husnul khatimah dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Kegiatan malam itu meninggalkan kesan mendalam dan menjadi pengingat akan pentingnya memperbaiki diri sebelum ajal menjemput.
Pada Selasa sore, 24 Februari 2026, suasana religius menyelimuti Masjid Ar Rahmah di Dusun Gendong. Ratusan jamaah dari berbagai kalangan memadati area masjid untuk mengikuti rangkaian acara sholawat dan pengajian yang berlangsung dengan khidmat dan penuh kekhusyukan.
Kegiatan diawali dengan *pra sholawat*, di mana grup hadrah melantunkan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Jamaah turut bershalawat bersama, menciptakan suasana hangat dan penuh cinta kepada Rasulullah.
Memasuki sesi *pembukaan*, pembawa acara menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan serta ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi. Harapannya, kegiatan ini menjadi sarana memperkuat iman dan mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Acara dilanjutkan dengan *tahlil* dan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Bacaan kalimat tauhid menggema di dalam masjid, dipanjatkan untuk kaum muslimin dan muslimat yang telah mendahului.
Dalam *sambutan takmir*, oleh ustadz Rohmad Zubair mengajak jamaah untuk menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan akhlak generasi muda dan sebagai sarana mempererat ukhuwah islamiyah dengan di wadahi oleh seluruh banom NU desa Watugaluh.
Kepedulian sosial mewarnai kegiatan melalui *santunan anak yatim oleh UPZISNU* (Unit Pengumpul Zakat, Infak, dan Sedekah NU). Bantuan diserahkan secara simbolis kepada anak-anak yatim yang hadir. Momen tersebut berlangsung haru dan penuh rasa syukur.
Suasana semakin khidmat saat memasuki *mahalul qiyam*, seluruh jamaah berdiri melantunkan sholawat bersama sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW.
Puncak acara diisi oleh Agus Maimun Dhuha dalam penyampaian *mauidhoh hasanah*. Dalam ceramahnya, beliau mengutip penjelasan kitab Daqoiqul Akhbar (دقائق الأخبار) tentang hakikat kehidupan dan kematian. Ia mengingatkan firman Allah SWT bahwa setiap yang hidup pasti akan merasakan mati, sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur’an.
Beliau menggambarkan detik-detik sakaratul maut, ketika seseorang mengalami naza’, lisannya kelu karena dikunci malaikat. Allah SWT memerintahkan empat malaikat datang secara bergantian. Malaikat pertama memberi salam dan berkata bahwa ia diutus untuk mengurus makan, dan hari itu orang tersebut tidak dapat makan sedikit pun. Malaikat kedua menyampaikan bahwa ia tidak dapat minum seteguk air. Malaikat ketiga mengatakan bahwa detik itu ia tidak lagi dapat bernapas. Malaikat keempat menyampaikan bahwa waktunya di dunia telah habis.
Setelah itu datang Malaikat Maut, yaitu Izrail, didampingi malaikat rahmat di sebelah kanan dan malaikat azab di sebelah kiri. Malaikat rahmat membawa kafan dari surga, sedangkan malaikat azab membawa kafan dari neraka.
Apabila orang tersebut baik amal dan akhlaknya, malaikat berkata dengan lembut, “Wahai orang yang baik, kini saatnya kembali kepada Allah SWT mencari ridha-Nya.” Ruhnya keluar bagaikan air yang mengalir dari timba, lalu didampingi malaikat rahmat dengan kain kafan dari surga dan diantarkan hingga ke langit ketujuh.
Sebaliknya, jika semasa hidupnya buruk perilakunya, malaikat berkata, “Wahai orang yang buruk sifatnya, kini saatnya engkau menemui Allah dan meminta perlindungan-Nya.” Ruhnya keluar dengan susah payah bagaikan tertusuk-tusuk, lalu diterima malaikat azab yang membawa kafan dari neraka. Ruh tersebut dibawa naik, namun telah ditolak sejak langit pertama.
Di akhir tausiyahnya, Agus Maimun Dhuha mengajak jamaah untuk memperbanyak amal saleh, menjaga lisan, serta mempersiapkan bekal sebelum datangnya kematian yang pasti menghampiri setiap insan.
Acara ditutup dengan doa bersama, memohon agar seluruh jamaah diberikan husnul khatimah dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Kegiatan malam itu meninggalkan kesan mendalam dan menjadi pengingat akan pentingnya memperbaiki diri sebelum ajal menjemput.(nun)