Surat Ta Ha Ayat 132
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
SALAT & REZEKI
Saat ngaji dalam lailatul ijtima Ranting NU Candimulyo edisi 153, di Musala Baiturrohman, Kamis (19/11/2020), Wakil Rois Syuriyah PCNU Jombang, KH M Soleh, menjelaskan keutamaan salat jamaah. ’’Orang yang istikomah salat jamaah akan diberi lima hal,’’ tuturnya mengutip hadist Nabi Muhammad sollallahu alaihi wa sallam.
Pertama, rezekinya luas. Tidak sampai kekurangan. Tidak sampai meminta-minta. Tidak sampai mencuri dan korupsi.
Kedua, bebas siksa kubur. Sayidina Usman selalu menangis ketika berbicara tentang kubur. Karena ini adalah gerbang pertama petualangan akhirat. Selamat di kuburan, pertanda akan selamat hingga ke surga.
Ketiga, menerima catatan amal dengan tangan kanan.
Keempat, melewati sirot secapat kilat. Padahal sirot itu digambarkan, lebih kecil dari rambut dibelah tujuh. Lebih tajam dibanding pedang. Menanjak seribu tahun. Menurun seribu tahun. Lurus seribu tahun.
Kelima, masuk surga tanpa hisab.
Soal rezeki, Kiai Jamal Tambakberas pas ngaji Alhikam Senin malam pernah cerita. Dalam urusan rezeki, maqom manusia ada dua. Pertama, maqom kasbi. Maqom nyambut gawe. Tandanya, nyambut gawe gampang. Dodol sak dodol payu. Ngelamar sak ngelamar kerjo diterimo. Nandur sak nandur panen akeh.
Kedua, maqom tajrid. Dodol sak dodol gak payu. Ngelamar sak ngelamar kerjo gak ada yang nerimo. Nandur sak nandur ora panen.
Orang di maqom ini cukup nyambut gawe kepada Allah dengan banyak ibadah. Utamanya salat.
Di kitab mauidoh Usfuriyah ada cerita. Ada orang baru masuk Islam. Sehingga diusir keluarga besarnya. Dia pun keluar bersama istri dan anaknya tanpa membawa harta sama sekali.
Pada hari Rabu, dia tak punya persediaan makan. Akhirnya si suami pergi ke pasar. Cari pekerjaan kesana kemari tidak dapat. Akhirnya dia habiskan waktunya untuk salat di masjid. Pada malam hari dia pulang tak membawa uang. Keluarga itupun tidur dalam kondisi lapar.
Pada hari Kamis, si suami kembali ke pasar. Cari pekerjaan kesana kemari tetap tidak dapat. Akhirnya dia habiskan waktunya untuk salat. Malam hari baru pulang. Keluarga itupun kembali tidur dalam kondisi kelaparan..
(Coro nang Candimulyo, langsung tak ajak Kamisan nang Baiturrohman biar dapat makan gratis.... hehe)
Pada hari Jumat, si suami kembali ke pasar, namun tetap tidak dapat pekerjaan. Akhirnya dia salat Jumat. Lalu menghabiskan waktunya untuk salat di masjid. Malam hari baru pulang tanpa membawa uang.
Ditengah jalan dia kepikiran, biar tidak ketok pulang dengan tangan kosong, aku tak membawa pasir diwadahi kantong, biar disangka membawa tepung.
Di luar dugaan, ketika sampai di rumah, istrinya sudah masak banyak. Istrinya cerita, tadi ada pemuda tampan yang mengantarkan uang seribu dinar emas sebagai upah bekerja si suami selama dua hari.
Si istri lalu mengambinya sekeping untuk ditukar ke pasar. Ternyata sekeping itu bernilai seribu keping. Dengan uang itu si istri lantas belanja dan masak.
Si istri kemudian mengambil kantong yang dibawa pulang si suami. Dan ketika dibuka, kantong itu ternyata berupa tepung..
Sejak membaca kisah itu, saya selalu berusaha, sesibuk apapun bekerja, kalau sudah dengar azan, saya utamakan salat jamaah dulu...
Kecuali kalau sudah janjian salat jamaah di rumah bersama istri..
Inilah nikmatnya punya istri..
Kita bisa rutin jamaah, plus jima ah... hehe
Mugi Allah paring kita dan keturunan kita saget istikomah salat jamaah.